Selasa, 06 Maret 2012

Mencintai Pagi


Aku mencintai pagi.

Aku mencintai pagi seperti aku mencintaimu. Seperti mencintai hangatnya jingga maha indah yang meraung-raung dari timur. Seperti mencintai cahaya maha hebat yang pertama menyanyikan lagu kehidupan. Seperti mencintai silauan maha terang yang merangkak naik perlahan dari batas langit. Aku mencintaimu, seperti hatiku yang akan selalu mempertahankan hangat dan cahayanya demi napasmu agar tetap berhembus dan senyummu agar tetap tergaris di sketsa wajahmu.

Aku mencintai pagi.

Aku mencintai pagi seperti aku mencintaimu. Seperti mencintai gumpalan udara yang mulai memadat dan membeku. Seperti mencintai benderang yang mulai bertopengkan kabut. Seperti mencintai dingin yang menjilati pori sampai tunduk di bawah lindungan lembaran busa. Seperti mencintai kristal-kristal yang mengecup ujung bibir dedaunan. Aku mencintaimu, seperti hatiku yang akan selalu memberimu beku agar kau kembali untuk kudekap.

Aku mencintai pagi.

Aku mencintai pagi seperti aku mencintaimu. Seperti berdusta tentang kasih terhadap hitam dan gelap malam gulita yang membelai lembut. Seperti berkhianat dengan gemerlap bintang yang menari memaksa untuk berfoya-foya. Seperti berbohong tentang detak detik jam dinding yang sunyi dan mengikatku pada jarum-jarum penjelajah karpet angka. Aku mencintaimu, seperti hatiku yang kutenggelamkan di laut malam karena mendamba fajarmu untuk menyelamatkanku.


..........


Lebih dari itu, hatiku mampu melihatmu ada di dalam dirinya lebih jelas di pagi hari. Dengan sinar matahari, dengan dingin udara subuh, dengan genggaman erat malam yang kulepas.

Kamis, 23 Februari 2012

Aku Akan Bahagia

Aku tahu hidup itu berat dan yang ringan itu cuma mati menurut orang depresi yang putus asa. Aku tahu berlian itu memang seharusnya lebih berat daripada kapas meskipun hal seringan udara sudah cukup membuat bahagia bagi penderita asma. Aku tahu si petani harus memikul atau minimal mendorong sendiri padi-padi dari sawahnya menuju rumah, karena hanya si saudagar kaya yang bisa tinggal membayar orang lain untuk mengangkut apa yang harus diangkutnya. Aku tahu aku bukan si kaya yang membayar orang, aku si petani yang mengangkut sendiri. Tapi aku tahu aku akan kaya dan membeli si kaya beserta orang-orang sewaannya. Aku akan bahagia.

Aku tahu jalan itu tidak ada yang lurus dan mulus, bahkan jalan tol. Aku tahu di tengah jalan, pria tampan dengan ferrari saja kadang tidak terlihat, apalagi pengemis, kecuali penjual tahu goreng, itu pun jika manusia-manusia yang sedang memberi kontrubusi pada kemacetan jalanan sedang kelaparan. Aku tahu jalanan di tempat kelahiranku Ambon lebih berkelok dan naik turun dibandingkan jalan raya di kota besar, tapi disanalah terdapat banyak tempat indah yang jauh lebih hebat dari sekedar kepadatan kendaraan dan gedung-gedung. Aku tahu sebuah private beach dapat dicapai setelah melewati jalan yang benar-benar membuat ingin muntah. Suatu saat aku akan punya jalan lurus dan mulus menuju pantai yang indah milikku sendiri. Aku akan bahagia.

Aku tahu ada orang bijak yang mengatakan bahwa kita harus tetap hancur secara terus menerus dan kontinyu untuk tetap hidup. Aku tahu hanya mayat yang tidak merasakan sakit, kecuali mayat itu menjelma menjadi mahkluk lain yang katanya belum selesai urusannya saat ia meninggal seperti di film-film. Aku tahu seorang bayi harus menangis untuk menandakan bahwa ia hidup dan sehat. Aku tahu hanya bekas luka yang dapat meramu segudang pelajaran menjadi satu ramuan yang dapat diminum sekaligus, dan setelah meminumnya kita menjadi sakti. Aku harus salah langkah, salah pilihan, salah strategi, salah pertahanan, salah jatuh cinta, salah patah hati, salah menuliskan berjilid-jilid kisah, sampai akhirnya aku akan mendapatkan yang benar. Benar dan baik. Benar dan baik yang tidak seorang pun dapat mendefinisikan, mendeskripsikan dan menguraikan artinya. Aku akan bahagia.

..........

Aku sudah melewati berbagai jalan, dari yang pendek, sampai yang sangat panjang. Aku berjalan dari garis start dan terus menemukan garis finish di setiap jalan. Suatu saat aku akan melalui jalan yang hanya punya garis start tanpa punya garis finish.

Terserah apapun yang kulalui. Terserah apapun yang kutulis. Aku punya Editor Maha Hebat. Aku tahu, aku akan bahagia. Bahagia secara konstan dalam suatu periode masa dan dunia yang luar biasa.

Sabtu, 21 Januari 2012

di pelukan itu kita pulang...


aku rasa kita telah berjalan terlalu jauh. melewati ribuan jalan tol, jalan raya sampai gang-gang tikus. kita telah menggunakan berbagai cara untuk berpindah tempat untuk akhirnya tiba di titik ini. lalu pada suatu saat kita mengalami sebuah kecelakaan hebat yang membuat kita berdua sama-sama mengalami amnesia. kita lupa dari mana kita berasal sehingga tidak mungkin bisa kembali. aku rasa kita juga mengalami geger otak sampai kita bisa kehilangan kewarasan sejauh ini.

aku rasa kita sudah mengalami berbagai proses sampai menjadi seperti ini. tidak lagi dekat, tapi menjadi satu. tak ada lagi spasi sama sekali. kita sudah menarik dan menghembuskan udara yang sama untuk bernapas. kita membuat paru-paru kita sesak satu sama lain untuk mengkonsumsi satu porsi udara untuk dua jiwa. kita membuat kaki kita kelelahan untuk menopang berat dua jiwa dalam setiap langkah. kita membuat kepala kita meledak karena terisi pikiran dari dua otak tentang satu sama lain dalam satu ruang penat yang sama.

aku rasa kita telah menciptakan dua ekor keledai yang terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. bahkan aku rasa kita adalah hewan lain yang lebih hina dari keledai karena kita terjatuh pada lubang yang sama berkali-kali, bahkan setelah kita mampu menghitung dan menghafal berapa langkah lagi lubang itu berada dari tempat kita berdiri. aku rasa kita selalu sengaja menjatuhkan diri, hanya saja aku tahu pasti bahwa kita tidak menikmati hal ini.

aku rasa kita tahu seberapa tinggi tingkat ketergantungan kita pada substansi kebersamaan kita satu sama lain. aku rasa kita sadar bagaimana toleransi hati kita yang terus meningkat dan mengakibatkan kita terus meningkatkan dosis sampai kita ada di tingkat ketergantungan setinggi ini. kita tahu adiksi ini telah menciptakan dua sosok monster raksasa, tapi kita tahu bagaimana beratnya dipaksa berhenti mengkonsumsi. kita tahu berusaha menjauh adalah usaha yang membutuhkan energi besar yang selalu sia-sia.

aku rasa aku sudah terlalu banyak berdoa agar diberi petunjuk jalan mana yang harus kulewati jika tujuan akhirnya adalah aku harus bersamamu maupun tidak bersamamu. sampai akhirnya yang kutemukan hanya jalan yang aku tak pernah tau ke mana tujuannya. aku rasa kamu juga sudah terlalu banyak meyakini bahwa semua akan baik-baik saja. sampai akhirnya yang kamu alami tidak banyak yang baik-baik saja bahkan sangat sedikit karena hasil dari semuanya adalah kacau balau.

sekarang, satu-satunya yang aku pahami adalah kita harus pulang ke rumah masing-masing. untuk itu aku sadar bahwa di atas segala hal yang telah terjadi,
"...rumah adalah dimana pelukan kita melebur menjadi satu dan merangkul tubuh kita satu sama lain. maka pulanglah, aku tahu kita lelah."

Rabu, 14 Desember 2011

Dusk and Dawn


you cry the clouds when it's sunny and burn the sky when it's rainy.

you rise the stars when it's dawn and drown the moon when it's dusk.

.....


Seperti senja, kamu membawa dingin hembusan angin malam bersamaan dengan hangat jingga langit sore.

Seperti fajar, kamu membawa dingin beku suhu udara pagi bersamaan dengan hangat sinar terbitnya surya.

Seperti senja dan fajar, kamu melukiskan matahari dan bulan bersamaan dalam satu bingkai langit yang beralih memudar dan memutar warna.

Bersama Kebersamaan


Kita sudah mengayunkan jutaan langkah bersama.
Kita sudah mengusap milyaran peluh bersama.
Kita sudah menopang ribuan tulang satu sama lain.
Kita sudah menggambarkan trilyunan mimpi dalam kesendirian malam.
Kita sudah melafalkan milyaran mimpi dalam keramaian tawa.
Kita sudah meneriakkan ratusan suara dukungan.
Kita sudah menyanyikan ribuan nada dengan hati kita.

Kita melebur pada suatu konsep masa peralihan.
Kita berlari dari dunia fantasi yang sempurna ke setengah realita.
Kita mempersiapkan diri menghadapi realita sseutuhnya.
Kita memaknai potongan-potongan kecil hidup sebagai pelajaran.
Kita menyatu dan terikat dalam sebuah tali berlabel perbedaan.
Kita memiliki jiwa satu sama lain tanpa diarahkan.
Kita memahami dan mengandalkan diam-diam.

Kita bersama sejak kebersamaan berarti harus selalu bersama dan memamerkan ikatan kebersamaan dalam susunan aturan tertentu, sampai yang tersisa hanya kebersamaan batin dan jiwa serta dukungan, pengertian, dan mimpi yang selalu terbang bersama dan ternyata lebih kuat dari kebersamaan manapun.

Lebih Buta


Dulu aku melihatmu dalam buta.

Meraba-raba dalam hitam. Aku tak punya mata, tapi kata mereka aku punya hati. Walaupun menurutku yang aku punya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa kamulah yang kuinginkan. Keyakinan yang semakin pekat pada ruang yang semakin gelap. Aku tak mampu melihat apapun. Aku hanya tahu bagaimana diriku, tanpa mau tahu bagaimana dirimu. Aku tahu aku mendambakanmu, tanpa mau tahu seperti apa dirimu.
Aku menyentuh matamu dan aku tahu mata itu indah. Tidak peduli ke arah mana mata itu melihat. Aku menyentuh dadamu dan merasakan detak jantungmu. Tanpa tahu apa yang disenandungkan ritme degupannya.
Aku tak perlu melihat mana yang baik dan mana yang tidak. Aku tahu semua hitam.
Dengan begitu aku tergila-gila.


Lama-lama aku lelah meraba-raba.

Aku berjalan perlahan ke arah kontak lampu. Berusaha menyalakannya.
Mencari sedikit cahaya yang aku pikir akan membantuku. Mencari cerah yang aku pikir akan berwarna. Mencari binar yang aku pikir akan menerangi.
Aku merangkak dari jatuh dalam langkahku menuju sesorot sinar. Merangkak dari jatuh untuk tujuan yang sesungguhnya tak aku inginkan. Aku tak benar ingin menyalakan lampu. Aku hanya lelah meraba-raba. Kenapa tidak duduk diam saja di dalam gelap? Sampai akhirnya aku meraih kontak lampu. Banjir cahaya menerobos masuk ke mata besarku.
Aku pikir aku akan bergerak lebih mudah dalam terang. Aku pikir aku tak akan lagi kelelahan meraba-raba. Ternyata silau menyakitkan.
Lalu aku menjadi gila.


Sekarang aku sekarat untuk menjadi gila.

Cahaya disekitarku terlalu banyak. Mereka membunuhku. Mereka bergerombolan maju bersamaan ke arahku dengan pisau terasah di genggaman masing-masing.
Aku melihat terlalu banyak. Tahu terlalu jauh. Mengerti terlalu dalam. Aku juga menilai terlalu banyak. Berharap terlalu jauh. Dan akhirnya kecewa terlalu dalam.
Tentang sosokmu. Aku meneteskan banyak darah. Pisau-pisau mereka tak mau berhenti menyayat. Ternyata terang lebih melelahkan. Aku berusaha meredupkan dan perlahan mematikan lampu lagi. Aku ingin kembali lebih membutakan diri. Aku ingin kembali memelukmu pada hamparan hitam. Aku mau kembali merasakanmu tanpa harus melihatmu.
Seperti itulah aku ingin tergila-gila lagi.


..........


aku ingin kembali buta. membutakan diri. lebih buta lagi...

Kenapa Kamu?

Karena aku sudah meninggalkan banyak hal, membuang banyak hal, merusak banyak hal, mengorbankan banyak hal, dan mengacaukan banyak hal...

Karena aku sudah melewati banyak hal, menggilai banyak hal, merasakan banyak hal, mencintai banyak hal, dan menghadapi banyak hal...

Karena aku pernah bahkan tergila-gila, lalu menjadi hanya gila, dan ingin kembali lebih dengan tergila-gila...

...Dalam seluruh waktumu menjadi bagian utama diriku.

...Dalam perjuanganku memiliki seutuhnya dirmu.

Senin, 21 November 2011

rasa empat musim



salju turun di luar jendela pada suatu malam.

kamu duduk di sofa depan perapian. nyaman dan hangat. tapi akhirnya kamu memilih beranjak, memakai baju hangat, jas wol panjang, kaos kaki, syal, sepatu boot, dan sarung tangan. kamu ingin keluar. memaksa dirimu meningglkan kenyamanan dan kehangatan lalu merasakan beku. di luar kamu melihat anak-anak kecil berjalan sambil melemparkan bola salju lalu tertawa lepas. sekarang kamu sadar. beku ini bisa kamu nikmati. sebut saja ini musim moving on from love.

.....


bunga mekar di luar jendela pada suatu pagi.

kamu membuka mata dari tidur nyenyak dan mimpi indah. menarik napas dalam-dalam menghirup aroma rumput yang segar. memejamkan mata perlahan dan meresapi kicauan burung. mereka terbang di bawah bentangan biru yang cerah. lalu kamu tersenyum. bahagia. semuanya indah dari sudut pandang apapun. bahkan saat kamu membuka ataupun menutup mata. sebut saja ini musim falling in love.

.....


matahari menyengat di luar jendela pada suatu siang.

kamu berjalan menyusuri bibir pantai. merasakan angin pantai lembut membelai pipimu. merasakan halus pasir putih yang diselingi air laut membasuh telapak kakimu. mendengar deburan ombak. lalu kamu mulai bernyanyi. menari-nari mengikuti detak jantung dan cucuran keringat yang terus berpacu. kulitmu terbakar, tapi kamu tak peduli. rasa ini terlalu kuat. sebut saja ini musim on fire at love.

.....


daun gugur di luar jendela pada suatu sore.

kamu diam. merasakan lelah menjalari seluruh sendi tubuhmu. merasakan perih menyeterum setiap sel sarafmu. kamu mulai melangkahkan kaki keluar dan menuju taman. jalanan dipenuhi warna orange dan cokela karena dipenuhi daun dan ranting kering. kamu duduk di kursi kayu di sudut taman. melamun, tatapanmu kosong melihat langit yang mulai menyembunyikan sinar matahari darimu. sebut saja ini musim broken by love.

.....


lalu kamu sadar musim akan terus berganti seperti itu. berputar terus-menerus sesuai masanya. begitulah adanya.

sayang, kemana kamu setiap hujan turun?

sayang, sore ini hujan turun lagi.
aku dalam perjalanan pulang dan aku basah kuyup.
aku kedinginan sampai tulang karena dirasuki beku yang ditiupkan angin kencang.
aku menggigil menggigit bibirku yang membiru.
aku menarik-narik ujung kaosku dengan jari yang mengeriput.
kamu dimana?

sayang, siang ini hujan turun lagi.
aku berlari menuju warung kecil yang tutup di pinggir jalan.
aku tidak begitu basah, hanya tak tahu bagaimana bisa pulang.
aku sendirian menunggu malaikat menurunkan payung.
aku tak menemukan siapa-siapa.
kamu dimana?

sayang, pagi ini hujan turun lagi.
aku bahkan belum sempat melangkahkan kakiku keluar.
aku menyabarkan diri berharap hujan mereda.
aku menunda semua urusanku dan kembali duduk di atas kasur.
aku melihat ke luar jendela dan tak bisa berbuat apapun.
kamu dimana?

sayang, malam ini hujan turun lagi.
aku diserbu air, angin, dan gelap malam.
aku melirik ke seluruh sudut kamar lalu melirik pintu dan jendela.
aku berharap ada seseorang atau sesuatu apapun yang bisa menenangkanku.
aku takut, dunia terlihat kosong dan sunyi.
kamu dimana?

sayang, hari ini hujan turun lagi.
aku tahu kamu bahkan jarang berdiri di bawah awan pekat.
aku tahu kamu selalu sudah berada di bawah sepotong atap sebelum awan itu mengitam dan mulai memuntahkan isinya.
aku tahu kamu selalu punya payung jika terpaksa harus mencicipi air langit itu.
tapi sayang, tolong aku yang tak punya yang kamu miliki.
pasal 1
"it will never work!"

pasal 2
"i don't need you. i gave up my expectation on you."

pasal 3
"when i started expecting again, you're best at letting me down. so back to pasal 2 then turn to pasal 1."